Nyeri Kronis?

Dua cara ini lebih ampuh atasi nyeri daripada obat antinyeri!


Tanyakan apa obat dari kelompok farmakologi mana yang paling banyak dikonsumsi, dan kamu akan menemukan obat antinyeri adalah salah satu diantaranya. Mulai dari sekedar nyeri ringan, seperti sakit kepala, luka gores, hingga nyeri yang jauh lebih serius, seperti yang dialami oleh penderita kanker. Pengobatan swamedikasi pada nyeri merupakan sesuatu yang umum dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kita. Umumnya, pertolongan dokter baru dicari ketika nyeri yang dialami tidak kunjung reda dengan obat-obat antinyeri yang dibeli sendiri. Tidak heran mengapa antinyeri menjadi salah satu jenis obat yang penggunaannya paling tinggi dan diramalkan akan terus bertambah.

Nyeri merupakan keluhan yang hampir selalu menyertai penyakit apapun. Hal ini menyebabkan obat ini menjadi obat yang akan digunakan jangka panjang. Baik secara berkesinambungan maupun temporer. Sayangnya obat ini memiliki efek samping yang cukup serius jika digunakan jangka panjang. Beberapa kondisi penyakit bahkan kontraindikasi dengan antinyeri. Sebut saja gagal jantung dan tukak lambung. Oleh sebab itu, industri farmasi terus berlomba untuk menghasilkan antinyeri dengan profil keamanan yang lebih baik dari yang sudah tersedia di pasaran. Akan tetapi, kita bahwa nyeri tidak selalu melulu harus diobati dengan obat. Ada cara lebih aman tanpa obat yang bisa lebih ampuh mengatasi nyeri dibandingkan obat, yaitu tidur dan kafein.

Ya, kalian tidak salah baca! Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Boston Children’s Hospital and Beth Israel Deaconess Medical Center, yang menggunakan mencit sebagai hewan uji, tidur ternyata cukup memberikan kemampuan untuk mengatasi nyeri. Kurang tidur menyebabkan seseorang lebih sensitif terhadap stimulus nyeri. Penelitian ini juga mendapati bahwa sensitivitas terhadap nyeri ini dapat diblok oleh kafein. Pada mencit yang kurang tidur, aktivitas antinyeri mulai dari yang ringan sampai antinyeri golongan narkotika, tidak dapat bekerja secara optimal memblok impuls nyeri ini. [Nurhajati Husen & Barrarah Bariid]