Kinerja Keperawatan, kaitannya dengan kualitas terapi!

EGC Advertorial

 

Optimalisasi peranan perawat memiliki dampak besar pada hasil terapi. Begitu kira-kira yang bisa disimpulkan setelah membaca artikel berjudul "Practice Nurse Model Improves Primary-Care Diabetes Outcomes" yang dipublikasikan di Medscape pada awal bulan April lalu. Artikel tersebut memaparkan tentang bagaimana reorientasi serta pelatihan serta pelibatan perawat dalam edukasi inisiasi penggunaan insulin dapat memperbaiki kontrol gula darah pasien. Di negara-negara maju terutama di Eropa, reformasi peran dan tanggung jawab perawat ini mulai dilakukan sejak tahun 1980an.

Di Indonesia sendiri, upaya perbaikan ini harus mendapatkan perhatian serius. Berdasarkan data dari Depkes RI dan WHO pada tahun 2000, perawat di beberapa provinsi (Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Jawa Barat, dan DKI Jakarta), sebesar 39,8 % perawat masih melakukan pekerjaan nonkeperawatan. Berdasarkan temuan ini, maka berbagai upaya pun dilakukan untuk meningkatkan kinerja perawat dan bidan, antara lain: program gugus kendali mutu, penerapan standar keperawatan, pendekatan pemecahan masalah, dan audit keperawatan. Sebagai garda terdepan dalam perawatan pasien dan tenaga kesehatan yang paling sering berinteraksi dengan pasien, maka tidak heran jika optimalisasi peranan perawat dapat menghasilkan perbaikan signifikan dalam hasil terapi.

Merespons kebutuhan peningkatan mutu ini, maka EGC menerbitkan buku berjudul Manajemen Kinerja Keperawatan yang ditulis oleh Nikolaus N. Kewuan, S.Kep., Ns., M.P.H. Buku setebal 123 halaman ini terdiri dari 10 bab yang diawali dengan membahas perubahan mutu kinerja keperawatan sebagai tantangan dan suatu keharusan, lalu konsep, standar, uraian tugas, dan indikator, serta diskusi dan refleksi kasus hingga pelaksanaan, pemantauan, dan indikator manajemen kinerja keperawatan. Sebagai bab penutup, diangkat tema terkait model rumah sehat dalam pelayanan keperawatan/ kesehatan [Nurhajati Husen & Barrarah Bariid]