Awas! Praktik Menggemukkan Badan ini Efektif tapi Berbahaya.

Sama seperti menurunkan berat badan, menggemukkan badan juga sering kali bukan hal mudah. Ada banyak faktor yang menyebabkan orang mengalami kesulitan menaikkan berat badan meskipun sudah makan  banyak. Untuk alasan tertentu, sering kali orang menempuh cara apa pun untuk menaikkan berat badannya. Meskipun dengan menggunakan cara-cara yang berbahaya.

Salah satu cara yang dipraktikkan adalah dengan mengonsumsi tablet deksametason yang dikombinasikan dengan antihistamin siproheptadin. Kombinasi ini memang terkadang digunakan oleh dokter dalam keadaan darurat yang bisa menyebabkan berat badan pasien terlalu rendah dan membahayakan dirinya. Akan tetapi, tidak berarti bahwa cara ini bisa digunakan oleh siapa pun, karena justru dapat menimbulkan permasalahan serius bagi kesehatan penggunanya. Mekanisme kerja deksametason yang menggemukkan barang belum sepenuhnya dipahami. Namun, diduga kuat efek ini diakibatkan oleh efek pada Neuropeptida Y dan Leptin. Dua senyawa yang terlibat dalam induksi rasa kenyang ini terganggu sintesisnya sehingga terjadi asupan makanan yang berlebihan. Poggioli (2013) dalam penelitiannya juga menegaskan bahwa deksametason juga menurunkan penggunaan energi tubuh (Energy expenditure). Siproheptadin menyebabkan kegemukan dengan menghambat pelepasan serotonin yang penting untuk memicu rasa kenyang 

Deksametason merupakan kortikosteroid jenis glukokortikoid. Hormon ini dapat meningkatkan massa total jaringan adiposa dan mendistribusikan ulang lemak di area perifer ke area sentral tubuh (area perut dan pinggang). Kegemukan sentral ini terkait dengan penyakit, seperti gagal jantung dan resistansi insulin yang dapat memicu penyakit-penyakit metabolisme. Siproheptadin merupakan antihistamin yang memiliki efek meningkatkan nafsu makan yang cukup kuat. Penyalahgunaan bahan aktif ini cukup sering terjadi, misalnya yang terjadi di Kinshasha (Kongo). Fenomena penyalahgunaan siproheptadin ini dikenal dengan nama "C4 Phenomenon". Kombinasi keduanya mengakibatkan obesitas terutama di area sentral tubuh dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan penyakit gangguan metabolisme. Dalam tata laksana berbagai penyakit misalnya diabetes, penanganan berat badan merupakan komponen penting terapi. [Nurhajati Husen & Barrarah Bariid]